SUGENG RAWUH

Search

Memuat...

Jumat, 30 Oktober 2009

PAROTITIS

PAROTITIS

I. PENDAHULUAN

Parotitis epidemika adalah penyakit virus menyeluruh, akut, yang kelenjar ludahnya membesar nyeri, terutama kelenjar parotis, merupakan tanda-tanda yang biasa ada. Nama parotitis epidemica kurang tepat sebab tidak selalu ada radang di parotis dan penyakit tersebut tidak selalu mewabah. Merupakan suatu penyakit menular yang akut.

II. ETIOLOGI

Disebabkan oleh virus. Virus ini adalah anggota kelompok paramiksovirus yang juga mencakup parainfluenza, campak, dan vius penyakit Newcastle. Hanya diketahui ada satu serotip. Biakan manusia atau sel ginjal kera terutama digunakan untuk isolasi virus. Virus telah diisolasi dari ludah, cairan serebrospinal, darah, urin, otak dan jaringan terinfeksi lain. Mumps merupakan virus RN rantai tunggal dan anggota dari family Paramyxoviridae, genus Paramyxovirus. Virus mumps mempunyai 2 glikoprotein yaitu hamaglutinin-neuramidase dan perpaduan protein. Virus mumps sensitif terhadap panas dan sinar ultraviolet­­­­­­.

III. INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI

Penyakit tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemic atau epidemik. Penyebaran virus terjadi dengan kontak langsung, percikan ludah, bahan muntah, mungkin dengan urin. Virus dapat diisolasi dari faring dua hari sebelum sampai enam hari setelah terjadi pembesaran kelenjar parotis. Pada penderita parotitis epidemika tanpa pembesaran kelenjar parotis, virus dapat pula diisolasi dari faring. Virus dapat ditemukan dalam urin dari hari pertama sampai hari keempat belas setelah terjadi pembesaran kelenjar. Baik infeksi klinis maupun subklinis menyebabkan imunitas seumur hidup. Bayi sampai umur 6 – 8 bulan tidak dapat terjangkit parotits epidemika karena dilindungi oleh anti bodi yang dialirkan secara transplasental dari ibunya.3 Insiden tertinggi pada umur antara 5 sampai 9 tahun, kemudian diikuti antara umur 1 sampai 4 tahun, kemudian umur antara 10 sampai 14 tahun.5

IV. PATOGENESIS

Virus masuk tubuh mungkin via hidung/mulut; proliferasi terjadi di parotis/epitel traktus respiratorius kemudian terjadi viremia dan selanjutnya virus berdiam di jaringan kelenjar/saraf dan yang paling sering terkena ialah glandula parotis. Pada manusia selama fase akut, virus mumps dapat diisoler dari saliva, darah, air seni dan liquor. Mumps ialah suatu infeksi umum.

Bila testis terkena infeksi maka terdapat perdarahan kecil dan nekrosis sel epitel tubuli seminiferus. Pada pankreas kadang-kadang terdapat degenerasi dan nekrosis jaringan.

V. MANIFESTASI KLINIS

Masa tunas 14 sampai 24 hari. Dimulai dengan stadium prodromal, lamanya 1 sampai 2 hari dengan gejala demam, anoreksia, sakit kepala, muntah dan nyeri otot. Suhu tubuh biasanya naik sampai 38,5 0C sampai 39,50C kemudian timbul pembengkakan kelenjar parotis yang mula-mula unilateral tetapi kemudian dapat menjadi bilateral. Pembengkakan tersebut terasa nyeri baik spontan maupun perabaan, terlebih-lebih bila penderita makan atau minum sesuatu yang masam, ini merupakan gejala khas untuk parotitis epidemika.

Infeksi Kelenjar Ludah

Perjalanan penyakit klasik dimulai dengan demam, sakit kepala, anoreksia dan malaise. Dalam 24 jam anak mengeluh sakit telinga yang bertambah dengan gerakan mengunyah, esok harinya tampak glandula parotis membesar yang cepat bertambah besar, mencapai ukuran maksimal dalam 1 sampai 3 hari. Biasanya demam menghilang 1 sampai 6 hari dan suhu menjadi normal sebelum hilangnya pembengkakan kelenjar. Bagian bawah daun telinga terangkat ke atas dan keluar oleh pembengkakan glandula parotis. Pembengkakan dapat disertai nyeri hebat; nyeri mulai berkurang setelah tercapai pembengkakan maksimal berlangsung kira-kira selama 6 – 10 hari. Biasanya satu glandula parotis membesar kemudian diikuti yang lainnya dalam beberapa hari. Adakalanya kanan dan kiri membesar bersamaan. Parotis unilateral ditemukan kira-kira 25 %. Pembengkakan glandula submaksilaris dapat dilihat dan diraba di depan angulus mandibulae. Mumps glandula submaksilaris tanpa parotitis secara klinis tidak dapat dibedakan dengan adenitis cervical.

Epididymo-orchitis

Menduduki tempat kedua pada lelaki dewasa menurut frekuensi manifestasi klinis, biasanya timbul sporadik parotitis dapat mendahului parotitis atau sebagai manifestasi sendiri daripada mumps. Epididimitis selalu disertai orchitis. Ditemukan 20-30%, unilateral pada lelaki yang menderita mumps sesudah pubertas, insiden orchitis bilateral rendah, kira-kira 2 %.

Orchitis kebanyakan terjadi dalam 2 minggu pertama. Adakalanya di minggu ketiga. Diagnosis mumps orchitis tanpa parotitis ditegakkan dengan titer complement fixing antibodies yang meningkat selama masa rekonvalesensi.

Orchitis dimulai dengan tiba-tiba demam, menggigil, sakit kepala, nausea, muntah dan nyeri abdomen bagian bawah. Keluhan-keluhan tersebut biasanya paralel dengan beratanya orchitis. Lamanya demam jarang lebih dari 1 mingggu, demam turun secara krisis atau lysis. Bersama timbulnya demam, testis membengkak cepat disertai nyeri yang hebat. Tidak ada kekhawatiran akan impotensi atau sterilitas sebab:
- Orchitis kebanyakan unilateral
- Bila ada orchitis bilateral, sangat jarang terjadi atrofi total pada kedua testis.

Meningoencephalitis

Insiden kira-kira 10%, biasanya timbul 3-10 hari sesudah parotitis, dapat juga mendahului parotitis. Ditandai oleh demam, sakit kepala, nausea, muntah, kaku kuduk, gangguan kesadaran dan jarang ada kejang. Positive Brudzinski’s and Kernig’s Signs. Liquor menunjukkan plecytosis dengan kebanyakan limfosit, protein meninggi, glukosa dan klorida normal.

Biasanya demam menurun secara lysis dalam 3-10 hari. Perjalanan penyakit serupa benign aseptic meningitis dan biasanya tanpa sequelae.

Pankreatitis

Kelainan berat teapi jarang skali, tia-tiba ada keluhan hebat di epigastrium disertai demam, menggigil, lemah sekali,nausea dan muntah. Keluh kesah hilang perlahan – lahan dalam 37 hari, biasanya sembuh sempurna. Bila seorang perempuan menderita mumps disertai nyeri abdomen bagian bawah berarti ada oophoritis, bila ovarium kanan yang sakit maka keadaan tersebut mungkin tidak dapat dibedakan dengan acute appendicitis.

Kelenjar lain yang dapat meradang pada mumps, walaupun jarang ialah tiroiditis, mastitis, dacryoadenitis dan bartholinitis.

Pemeriksaan Laboratorium

Jumlah lekosit normal atau terdapat leukopenia dengan limfositosis relatif. Sebagai pemeriksaan tambahan dapat dilakukan complement-fixing antibody test, neutralization test, isolasi virus, uji intradermal dan pengukuran kadar amylase dalam serum.

VI. DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan bila jelas ada gejala infeksi parotitis epidemika pada pemeirksaan fisis. Disamping leucopenia dengan limfosiotsis relative, didapatkan pula kenaikan kadar amylase dengan serum yang mencapai puncaknya setelah satu minggu dan kemudian menjadi normal kembali dalam dua minggu.

Keterangan klinis berupa :

- ada kontak dengan penderita mumps 2-3 minggu sebelumnya

- gambaran klinis serupa parotitis

- tanda-tandaaseptoc meningitis

- Iksolasi virus mumps dan test serologic tidak diperlukan pada mumps yang klasik tetapi pada keadaan-keadaan yang meragukan seperti bila tidak ada parotitis atau pada recurrent parotitis. Sekurang-kurang ada 3 uji serologic untuk mebuktikan spesifik mumops antibodies:

· Complement fixation antibodies (CF)

· Hemagglutination inhibitor antibodies (HI)

· Virus neutralizing antibodies (NT)

CF paling praktis dan paling dipracya. Countries antibodies dapat dibuktikan di darah pada minggu ke-1 dan pada akhir minggu ke-2 sudah ada peninggian jelas. Titer meningkaty lebih ari 4 kali atau lebih berarti mumps.

Keterangan Laboratorium tambahan

Kadar amylae dala serum meninggi pada mumps paraparotitis dan pankteattis. Kadar amylase rupanya berjalan parallel dengan pembengkakan paroits, puncaknya tercapai di minggu ke-1, berangsur-angsur menjadi normal pada minggu ke-2 atau 3. kira-kira 70% mumps disertai amylase yang meninggi.

VII. DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding ini mencakup parotitis sebab lain, seperti pada infeksi virus termasuk infeksi virus imunodefisiensi manusia (HIV), influenza, parainfluenza 1 dan 3, sitomegalovirus, atau keadaan koksakivirus yang jarang dan infeksi koriomeningitis limfositik. Infeksi-infeksi ini dapat dibedakan dengan uji laboratorium spesifik;

- Parotitis supuratif, dimana nanah sering dapat dikeluarkan dari duktus

- Parotitis berulang, suatu keadaan yang sebabnya belum diketahui, tetapi mungkin bersifat alergi yang sering berulang dan mempunyai sialogram khas

- Kalkulus salivarius, menyumbat saluran parotis, atau lebih sering saluran submandibuler dimana pembengkakan intermitten,

- Limfadenitis preaurikuler atau servikal anterior karena sebab apapun,

- Limfosarkoma atau tumor parotis lain yang jarang

- Orkitis akibat infeksi selain daripada parotitis epidemika, misalnya infeksi yang jarang oleh koksakivirus atau virus koriomeningitis limfositik, atau parotitis yang disebabkan oleh sitomegalovirus pada anak yang terganggu imunnya.1

VIII. PENGOBATAN

Istirahat di tempat tidur selama masa panas dan pembengkakan kelenjar parotis. Simtomatik diberikan kompres panas atau dingin dan juga diberikan analgetika. Diet makanan cair dan lunak. Kortikosteroid selama 2-4 hari dan 20 ml convalescent gammaglobulin diperkirakan dapat mencegah terjadinya orkitis. Self limiting disease. Perjalanan penyakit tidak dapat dipengaruhi oleh anti mikroba.2,3

IX. PROGNOSIS

Pada umumnya bagus sekali, kematian sangat jarang. Meningoencephalitis biasanya tidak ganas dabn jarang bersequele walaupun insiden setelah atrofi testis setelah orchitis tinggi tetapi kemandulan sangat jarang ditemukan. Hanya persentasi kecil yang mendapat tuli permanen.

X. PENCEGAHAN

Perlindungan pasif

Gammaglobulin biasanya tidak efektif. Khasiat mumps immunoglobulin juga tidak jelas.

Imunisasi aktif

- Inactivated mumps virus vaccine tidak efektif

- Live attenuated mumps virus vaccine Jery Lin mulai digunakan 1968 di USA, tidak disertai demam.

- Suntikan subkutan, kira-kira 95% akan membuat mumps antibodies tetapi antibodinya jauh lebih rendah daripada diperoleh sesudah menderita mumps. Vaksinasi memberikan perlindungan yanhg bagus sekali paling sedikit 4 tahun. Tidak dianjurkan kepada:

· Anak dibawah 1 tahun yang alergi terhadap protein telur/neomycin

· Yang mendapat obat-obatan immunosupresif


DAFTAR PUSTAKA

http://oncejevuska.blogspot.com/2007/04/mumps-parotitis-epidemika.html

Gagal Ginjal Kronis (GGK)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Tubuh mahluk hidup terdiri dari berbagai macam sistem kerja yang kompleks. Masing-masing sistem didukung oleh satu atau lebih organ yang berbeda-beda fungsinya.

Mempertahankan volume,komposisi dan distribusi cairan tubuh merupakan fungsi esensial untuk kesejahteraan yang berarti keselamatan dari seluruh mahluk hidup. Pada manusia,fungsi ini sebagian besar dijalankan oleh ginjal. Ginjal berfungsi untuk mengatur keseimbangan air dalam tubuh,mengatur konsentrasi garam dalam darah dan keseimbangan asam basa darah serta ekskresi bahan buangan dan kelebihan garam. Mengingat fungsi ginjal yang sangat penting maka setiap keadaan yang dapat menimbulkan gangguan fungsi organ ini dapat membawa kematian. Apabila ginjal gagal melakukan fungsinya maka penderita memerlukan pengobatan dengan segera. Keadaan dimana ginjal lambat laun mulai tidak dapat melakukan fungsinya dengan baik disebut juga dengan Gagal Ginjal Kronis(GGK). Gagal ginjal kronis ditandai dengan penurunan fungsi nefron,penurunan laju penyaringan glomerolus dan uremia.1)

Di dunia barat setiap tahun kurang lebih 50 orang per juta populasi menderita serangan gagal ginjal kronis.2) Di amerika dengan penduduk lebih dari 20 milyar,satu dari sembilan orang dewasa mempunyai penyakit ginjal kronik. Penyakit ginjal menempati urutan pertama pada pembiayaan perawatan di amerika dan lebih dari 378.000 waga amerika tertolong dari gagal ginjal kronis dengan memerlukan mesin ginjal buatan untuk mempertahankan hidup,lebih dari 50.000 pasien menunggu untuk dilakukan transplantasi ginjal tetapi hanya sekitar 14.000 yang dapat menerimanya karena keterbatasan organ donor ginjal.3)

Di Indonesia jumlah penderita gagal ginjal kronis mencapai 70 ribu penderita dan diperkirakan pertumbuhannya sekitar 10 % setiap tahun. Menurut dat dari rekam medik Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta pada bulan januari-desember 2006 yang menjalani rawat inap dengan penyakit gagal ginjal kronis berjumlah 161 pasien yang terdiri dari 99 orang laki-laki atau 61,5 % dan 62 pasien perempuan atau 39,5%.Jika dirata-rata hal ini berarti dalam 1 bulan pasien yang menjalani rawat inap dengan penyakit GGK berjumlah 13 orang. Dari bulan januari-akhir april 2007 pasien yang menjalani rawat inap dengan penyakit GGK berjumlah 60 orang pasien yang terdiri dari 29 orang laki-laki atau 48,3% dan 31 pasien perempuan atau 51,7 %. Jika dirata-rata dalam 1 bulan pasien yang menjalani rawat inap dengan penyakit GGK sampai akhir april 2007 berjumlah 15 orang. Hal ini berarti bahwa jumlah pasien GGK mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2006 sebanyak 24 pasien dan sampai akhir april 2007 sebanyak 11 pasien GGK keluar dalam keadaan meninggal.

Penderita yang didiagnosa mengalami gagal ginjal kronis tetapi tidak menjalani transplantasi,maka seumur hidupnya ia akan bergantung pada alat dialisa untuk menggantikan fungsi ginjalnya. Pengobatan pada GGK dibagi 2 yaitu pengobatan konservatif dan pengobatan pengganti atau dalisa dan transplantasi. Sebelum akhirnya menerima dialisa,pasien GGK biasanya menerima terapi konservatif seperti koreksi terhadap faktor-faktor yang berperan,kontrol tekanan darah dan cairan serta pembatasan diet. Namun terapi ini tidak mengobati penyakitnya tetapi mempertahankan supaya tidak menjadi progresif. Pada akhirnya pasien GGK cenderung memerlukan terapi pengganti ginjal (dialisa/transplantasi ginjal) yang bagaimanapun tindakan ini tidak mengurangi kemungkinan kematian akibat komplikasi GGK atau karena prosedur tindakan ini. Dari data yang diperoleh di ruang hemodialisa Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta pada tahun 2006 terdapat 708 pasien mendapat pengobatan dialisa dengan jumlah pelayanan hemodialisa 2818 dan dari bulan januari-akhir april 2007 terdapat 159 pasien mendapat pengobatan dilaisa dengan jumlah pelayanan hemodialisa 633.4) Dialisa adalah suatu tindakan terapi pada perawatan penderita gagal ginjal kronis. Salah satu jenis dialisa adalah hemodialisa.

Hemodialisa didefinisikan sebagai bergeraknya air dan zat-zat beracun hasil metabolisme dari dalm darah melewati membran semipermeabel ke dalam cairan dialisa. Salah satu masalah yang sering timbul pada penderia yang menjalani dialisa adalah tingginya insiden gizi kurang. Keadaan gizi kurang ini antara lain disebabkan oleh prosedur dialisa sendiri misalnya beberapa zat gizi seperti protein,vitamin dan mineral yang larut dalam air,vitamin B6,vitamin C,asam folat,besi akan larut dalam dialisat. Asupan makanan yang kurang dari penderita iku menyokong terjadinya gizi kurang. Kurangnya asupan makanan mungkin dipengaruhi oleh faktor tidak adanya nafsu makan,mual,muntah atau sedikitnya alternatif untuk memilih bahan makanan karena ketatnya diet yang diberikan.5)

Diet bertujuan untuk membantu mempertahankan status gizi yang optimal,mencegah faktor-faktor pemberat,mencoba untuk memperlambat penurunan fungsi ginjal,mengurangi dan bila mungkin menghilangkan gejala yang mengganggu dan mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit. Diet dengan hati-hati ditentukan oeh dokter dan diterjemahkan kedalam pola makanan pasien oleh ahli gizi. Perencanaan pengaturan diet cukup sulit dan diet sukar diikuti oleh pasien,akan tetapi bila itu tidak dipatuhi akan memberikan konsekuensi yang merugikan.6)

Selam ini banyak pasien mengganggap bahwa setelah dilakukan dialisa maka fungsi ginjal akan normal kembali. Diperkirakan hanya sekitar 10- 20% pasien GGK yang melakukan dialisa dapat kembali berfungsi seperti orang sehat.

Selai dengan dialisa dan transplantasi ginjal,diet juga merupakan perawatan yang penting untuk pasien GGK.Dengan adanya pengaturan diet yang baik maka penderita GGK dapat hidup normal kembali dan produktif serta dapat menunda menjalani dialisa untuk jangka waktu yang cukup lama. Melihat pentingnya diet bagi pasien GGK yang menjalani hemodialisa maka peneliti tertarik untuk meneliti ketaatan diet pasien GGK yang menjalani hemodialisa.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana ketaatan diet pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa di ruang hemodialisa Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Tahun 2007?

C. Tujuan

Memperoleh informasi tentang ketaatan diet pada pasien GGK yang menjalani hemodialisa di ruang hemodialisa Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta tahun 2007.

D. Manfaat

1. Bagi lahan penelitian (Rumah Sakit Panti Rapih)

a. Hasil penelitian dapat digunakan untuk mengetahui ketaatan diet pasien GGK yang menjalani hemodialisa.

b. Sebagai masukan untuk memberi penyuluhan kepada pasien GGK oleh petugas kesehatan tentang diet GGK.

2. Bagi institusi (Akper Panti Rapih)

Sebagai bahan informasi dan bahan bacaan yang berkaitan dengan diet GGK.

3. Bagi peneliti

Sebagai wahana bagi penulis dalam menguji daya analisa pada situasi nyata dan menerapkan ilmu yang sudah diperoleh untuk mendpatkan pengalaman nyata.

E. Ruang lingkup

Lingkup keilmuan adalah menerapkan teori dan ilmu keperawatan medikal bedah (perkemihan) dengan membatasi pada diet GGK, sedang untuk lingkup masalahnya adalah ketaatan diet pada pasien GGK yang menjalani hemodialisa.

Penelitian ini ditujukan pada pasien GGK yang mendapat hemodialisa di ruang hemodialisa Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 september-30 september 2007 di ruang hemodialisa Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.