SUGENG RAWUH

Search

Memuat...

Jumat, 30 Oktober 2009

Gagal Ginjal Kronis (GGK)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Tubuh mahluk hidup terdiri dari berbagai macam sistem kerja yang kompleks. Masing-masing sistem didukung oleh satu atau lebih organ yang berbeda-beda fungsinya.

Mempertahankan volume,komposisi dan distribusi cairan tubuh merupakan fungsi esensial untuk kesejahteraan yang berarti keselamatan dari seluruh mahluk hidup. Pada manusia,fungsi ini sebagian besar dijalankan oleh ginjal. Ginjal berfungsi untuk mengatur keseimbangan air dalam tubuh,mengatur konsentrasi garam dalam darah dan keseimbangan asam basa darah serta ekskresi bahan buangan dan kelebihan garam. Mengingat fungsi ginjal yang sangat penting maka setiap keadaan yang dapat menimbulkan gangguan fungsi organ ini dapat membawa kematian. Apabila ginjal gagal melakukan fungsinya maka penderita memerlukan pengobatan dengan segera. Keadaan dimana ginjal lambat laun mulai tidak dapat melakukan fungsinya dengan baik disebut juga dengan Gagal Ginjal Kronis(GGK). Gagal ginjal kronis ditandai dengan penurunan fungsi nefron,penurunan laju penyaringan glomerolus dan uremia.1)

Di dunia barat setiap tahun kurang lebih 50 orang per juta populasi menderita serangan gagal ginjal kronis.2) Di amerika dengan penduduk lebih dari 20 milyar,satu dari sembilan orang dewasa mempunyai penyakit ginjal kronik. Penyakit ginjal menempati urutan pertama pada pembiayaan perawatan di amerika dan lebih dari 378.000 waga amerika tertolong dari gagal ginjal kronis dengan memerlukan mesin ginjal buatan untuk mempertahankan hidup,lebih dari 50.000 pasien menunggu untuk dilakukan transplantasi ginjal tetapi hanya sekitar 14.000 yang dapat menerimanya karena keterbatasan organ donor ginjal.3)

Di Indonesia jumlah penderita gagal ginjal kronis mencapai 70 ribu penderita dan diperkirakan pertumbuhannya sekitar 10 % setiap tahun. Menurut dat dari rekam medik Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta pada bulan januari-desember 2006 yang menjalani rawat inap dengan penyakit gagal ginjal kronis berjumlah 161 pasien yang terdiri dari 99 orang laki-laki atau 61,5 % dan 62 pasien perempuan atau 39,5%.Jika dirata-rata hal ini berarti dalam 1 bulan pasien yang menjalani rawat inap dengan penyakit GGK berjumlah 13 orang. Dari bulan januari-akhir april 2007 pasien yang menjalani rawat inap dengan penyakit GGK berjumlah 60 orang pasien yang terdiri dari 29 orang laki-laki atau 48,3% dan 31 pasien perempuan atau 51,7 %. Jika dirata-rata dalam 1 bulan pasien yang menjalani rawat inap dengan penyakit GGK sampai akhir april 2007 berjumlah 15 orang. Hal ini berarti bahwa jumlah pasien GGK mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2006 sebanyak 24 pasien dan sampai akhir april 2007 sebanyak 11 pasien GGK keluar dalam keadaan meninggal.

Penderita yang didiagnosa mengalami gagal ginjal kronis tetapi tidak menjalani transplantasi,maka seumur hidupnya ia akan bergantung pada alat dialisa untuk menggantikan fungsi ginjalnya. Pengobatan pada GGK dibagi 2 yaitu pengobatan konservatif dan pengobatan pengganti atau dalisa dan transplantasi. Sebelum akhirnya menerima dialisa,pasien GGK biasanya menerima terapi konservatif seperti koreksi terhadap faktor-faktor yang berperan,kontrol tekanan darah dan cairan serta pembatasan diet. Namun terapi ini tidak mengobati penyakitnya tetapi mempertahankan supaya tidak menjadi progresif. Pada akhirnya pasien GGK cenderung memerlukan terapi pengganti ginjal (dialisa/transplantasi ginjal) yang bagaimanapun tindakan ini tidak mengurangi kemungkinan kematian akibat komplikasi GGK atau karena prosedur tindakan ini. Dari data yang diperoleh di ruang hemodialisa Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta pada tahun 2006 terdapat 708 pasien mendapat pengobatan dialisa dengan jumlah pelayanan hemodialisa 2818 dan dari bulan januari-akhir april 2007 terdapat 159 pasien mendapat pengobatan dilaisa dengan jumlah pelayanan hemodialisa 633.4) Dialisa adalah suatu tindakan terapi pada perawatan penderita gagal ginjal kronis. Salah satu jenis dialisa adalah hemodialisa.

Hemodialisa didefinisikan sebagai bergeraknya air dan zat-zat beracun hasil metabolisme dari dalm darah melewati membran semipermeabel ke dalam cairan dialisa. Salah satu masalah yang sering timbul pada penderia yang menjalani dialisa adalah tingginya insiden gizi kurang. Keadaan gizi kurang ini antara lain disebabkan oleh prosedur dialisa sendiri misalnya beberapa zat gizi seperti protein,vitamin dan mineral yang larut dalam air,vitamin B6,vitamin C,asam folat,besi akan larut dalam dialisat. Asupan makanan yang kurang dari penderita iku menyokong terjadinya gizi kurang. Kurangnya asupan makanan mungkin dipengaruhi oleh faktor tidak adanya nafsu makan,mual,muntah atau sedikitnya alternatif untuk memilih bahan makanan karena ketatnya diet yang diberikan.5)

Diet bertujuan untuk membantu mempertahankan status gizi yang optimal,mencegah faktor-faktor pemberat,mencoba untuk memperlambat penurunan fungsi ginjal,mengurangi dan bila mungkin menghilangkan gejala yang mengganggu dan mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit. Diet dengan hati-hati ditentukan oeh dokter dan diterjemahkan kedalam pola makanan pasien oleh ahli gizi. Perencanaan pengaturan diet cukup sulit dan diet sukar diikuti oleh pasien,akan tetapi bila itu tidak dipatuhi akan memberikan konsekuensi yang merugikan.6)

Selam ini banyak pasien mengganggap bahwa setelah dilakukan dialisa maka fungsi ginjal akan normal kembali. Diperkirakan hanya sekitar 10- 20% pasien GGK yang melakukan dialisa dapat kembali berfungsi seperti orang sehat.

Selai dengan dialisa dan transplantasi ginjal,diet juga merupakan perawatan yang penting untuk pasien GGK.Dengan adanya pengaturan diet yang baik maka penderita GGK dapat hidup normal kembali dan produktif serta dapat menunda menjalani dialisa untuk jangka waktu yang cukup lama. Melihat pentingnya diet bagi pasien GGK yang menjalani hemodialisa maka peneliti tertarik untuk meneliti ketaatan diet pasien GGK yang menjalani hemodialisa.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana ketaatan diet pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa di ruang hemodialisa Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Tahun 2007?

C. Tujuan

Memperoleh informasi tentang ketaatan diet pada pasien GGK yang menjalani hemodialisa di ruang hemodialisa Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta tahun 2007.

D. Manfaat

1. Bagi lahan penelitian (Rumah Sakit Panti Rapih)

a. Hasil penelitian dapat digunakan untuk mengetahui ketaatan diet pasien GGK yang menjalani hemodialisa.

b. Sebagai masukan untuk memberi penyuluhan kepada pasien GGK oleh petugas kesehatan tentang diet GGK.

2. Bagi institusi (Akper Panti Rapih)

Sebagai bahan informasi dan bahan bacaan yang berkaitan dengan diet GGK.

3. Bagi peneliti

Sebagai wahana bagi penulis dalam menguji daya analisa pada situasi nyata dan menerapkan ilmu yang sudah diperoleh untuk mendpatkan pengalaman nyata.

E. Ruang lingkup

Lingkup keilmuan adalah menerapkan teori dan ilmu keperawatan medikal bedah (perkemihan) dengan membatasi pada diet GGK, sedang untuk lingkup masalahnya adalah ketaatan diet pada pasien GGK yang menjalani hemodialisa.

Penelitian ini ditujukan pada pasien GGK yang mendapat hemodialisa di ruang hemodialisa Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 september-30 september 2007 di ruang hemodialisa Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.